
Duel rivalitas Bayern Muenchen versus Real Madrid kerap berjalan tegang dan diwarnai insiden nonteknis. Kedua tim berduel pada putaran pertama semifinal Liga Champions di Stadion Fußball Arena, Selasa (17/4). Tak ada yang menjamin mereka bisa mencegah drama lama itu.
Laga itu merupakan duel kelima Bayern vs Madrid di panggung semifinal Liga Champions. Rivalitas mereka yang sarat dengan ketegangan itu dimulai di semifinal 1975/1976. Saat itu, hidung Roberto Martinez (Madrid) patah setelah bertabrakan dengan kiper Bayern, Sepp Maier.
Seorang penonton yang dijuluki ”El Loco del Bernabeu” (Si Pria Gila dari Bernabeu) masuk lapangan, menyerang wasit dan striker Bayern, Gerd Mueller.
Ketegangan dan insiden nonteknis terus mewarnai duel mereka, seperti di semifinal 1986/ 1987 saat Juanito (Madrid) menginjak punggung dan kepala playmaker Bayern, Lothar Matthaeus.
Bahkan, dalam laga pramusim 1981, duel Madrid vs Bayern juga heboh karena seluruh pemain Bayern masuk ke tengah lapangan setelah salah satu pemain mereka diusir karena memberikan isyarat kurang sopan kepada penonton di tribune penonton.
”Sepak bola berubah setelah hari-hari itu,” kata Pelatih Bayern Muenchen Jupp Heynckes saat jumpa pers, Senin.
Dia ingin meredakan memori ketegangan kedua tim masa silam. ”Saat ini, begitu banyak kamera dalam pertandingan. Saya tidak berpikir, ada perasaan tim bakal tampil dengan cara-cara yang melampaui batas,” ujarnya.
Retorika semacam itu lazim terjadi sebelum laga-laga sebelumnya. Ketika laga berlangsung, situasinya bakal berbeda. Apalagi, benih-benih ketegangan menjelang laga semifinal ini kian mengental. Mantan presiden dan kapten Bayern, Franz Beckenbauer, pernah menyebut Pelatih Real Madrid Jose Mourinho sebagai pria yang kurang sopan dan tidak terpelajar.
Seusai memastikan timnya lolos ke semifinal, Mourinho juga melontarkan perang urat saraf. Tiket final seolah dijatahkan untuk Bayern, yang bakal menjadi tuan rumah partai final 19 Mei, bersama Barcelona.
”Mourinho meninggalkan pengaruh kepada timnya dan saya tidak akan menyebut dia pelatih yang suka permainan bertahan. Anda harus membentuk tim yang seimbang dalam sepak bola modern. Menurut saya, dia salah satu pelatih terbaik di Eropa,” kata Heynckes.
Statistik laga Madrid menguatkan penilaian Heynckes. Di bawah Mourinho, Madrid mencetak 107 gol Liga Spanyol. Mereka tak terkalahkan dalam 20 laga terakhir pada semua ajang dan hanya kebobolan satu gol pada laga tandang Liga Champions.
”Siapa pun yang menyebut Mourinho pelatih defensif tidak klop dengan angka-angka statistik itu,” ujar Aitor Karanka, asisten Mourinho.
”Real murni bermain menyerang,” kata Heynckes, seperti dikutip majalah Jerman, Kicker.
Hal yang tidak terelakkan dalam duel Bayern vs Madrid kali ini adalah bakal kerasnya pertarungan di lini sayap. Kedua tim bermain dengan pola relatif serupa, 4-2-3-1. Bayern memiliki Franck Ribery dan Arjen Robben, sedangkan Madrid mempunyai Cristiano Ronaldo dan Angel di Maria.
Ronaldo, yang membukukan 41 gol di La Liga, bakal menjadi amunisi utama Madrid. Menarik untuk dilihat, bagaimana Bayern bakal meredam pemain termahal dunia itu. ”Kami memanfaatkan gol-gol Ronaldo. Tidak ada batas pada kemampuannya,” ujar Marcelo, bek kiri Madrid.
Dalam posisinya di sayap kiri, bintang Portugal itu bakal berhadapan dengan kapten Bayern, Philipp Lahm. ”Kami harus bekerja bersama-sama, bahu-membahu, dan terorganisasi. Cara itu membuat Anda berpeluang meredam pemain tersebut. Namun, semua hal dapat berlangsung cepat,” ujar Lahm.
Persepsi serupa muncul dari kubu Madrid. ”Bayern punya pemain sangat berbahaya dengan kualitas menyerang hebat, seperti Ribery dan Robben, tetapi sukses bisa dicapai dengan permainan kolektif,” kata Sergio Ramos, bek Madrid.